11 Maret 2008

Pulau Lelangga Kecil Milik Artalyta Suryani

Pulau Lelangga Kecil yang terletak di desa Sukarame Kecamatan Padang Cermin Kabupaten Pesawaran, bagi warga sekitar merupakan surga untuk mencari ikan. Sudah bertahun-tahun, penduduk sejumlah pulau di sekitar pulau Lelangga Kecil mencari lobster, ikan kerapu dan aneka jenis ikan hias lainnya. Meraka menyelam dan menangkap lobster di sela-sela terumbu karang.

Letak Pulau Lelangga Kecil diapit oleh empat pulau kecil, diantaranya Pulau Kelagian, Pulau Pahawang Kecil, Pulau Pahawang Besar dan Pulau Lelanggan Besar. Keempat pulau tersebut berpenghuni. “Hanya pulau Lelangga Kecil, milik Ayin, yang tidak berpenghuni, kata Banang, salah seorang warga Pulau Pahawang Besar. Desa Sukarame, Kecamatan Padang Cermin, Kapbupaten Pesawaran.

Air laut yang jernih dan terumbu karang yang relatif belum tersentuh merupakan rumah bagi ribuan ikan di dasar laut. Para nelayan dari pulau-pulau tetangga pun membuat puluhan keramba apung di sekitar pulau. Setidaknya ada empat pulau yang bertetangga dengan pulau milik Artalyta Suryani alias Ayin, tersangka kasus suap terhadap jaksa Urip Tri Gunawan. Sejumlah penduduk pulau-pulau tersebut membangun keramba apung. “Setiap akhir pekan, pedagang ikan mengunjungi keramba apung untuk meborong ikan disini,” uajrnya.

Warga, umumnya, menampung ikan kerapu dan lobster di keramba miliknya untuk beberapa hari sebelum pedagang dari Bandar Lampung mengambilnya. Meski begitu, sejak tiga tahun lalu, penduduk di sekitar pulau tersebut tidak bebas menyelam dan memancing ikan di sekitar perairan tersebut.

Pulau dengan luas 3 hektar itu diatasnya berdiri sebuah bangunan villa, bungalau dan dermaga yang menjorok ke laut. “Sejak berdiri beberapa bangunan warga tidak lagi bebas keluar masuk pulau tersebut. Pulau itu milik Ayin,” kata Daryanto, salah seorang warga Ketapang, Padang Cermin, Pesawaran.

Menurut Daryanto, sejak tahun 2005, sering terlihat kapal mewah bersandar. Kapal tersebut, katanya, membawa sejumlah orang penting. “Itu terlihat dari gaya dan pakaian mereka. Apalagi pemiliknya turut menemani,” tambahnya. Awalnya, kata dia, tidak mengenal paras Ayin. Nelayan yang biasa menangkap ikan disekitar pulau tersebut baru tahu setelah melihat berita di telivisi. “Selama ini hanya mendengar namanya saja,”

Untuk menuju pulau tesebut bisa ditempuh melalui Pelabuhan Rakyat Ketapang, Padang Cermin, Pesawaran atau Pelabuhan Nelayan di desa Bawang, Punduh Pidada. Meski lebih lama, perjalanan melaui Pelabuhan Ketapang lebih mudah. Kapal yang mengantar ke pulau tersebut ada setiap saat. “Yang penting cuaca bagus dan harga cocok,” kata Daryanto, salah seorang pemilik kapal. Meski begitu, para pemilik speedboat enggan mengantar ke pulau itu. “Bisa runyam kita. Pulau itu dijaga secara ketat,” ujarnya.

Jika ketahuan mengantar ke pulau itu, apalagi wartawan, para pemilik perahu bisa diinterogasi petugas penjaga pulau Lelangga Kecil. Saya terpaksa membohongi pemilik perahu. Setelah sampai di tengah laut saya baru minta diantar ke Pulau Lelangga Kecil. Pemilik perahu mengiyakan setelah minta bayaran lebih. Terpaksa saya membayar Rp. 500 ribu hanya untuk mengitari pulau itu.

Itu pun, pemilik perahu tidak berani mendekat dan merapat ke dermaga pulau. Alasannya takut kapalnya terhempas gelombang. “Kapal saya bisa pecah, mas,” ujar pemilik perahu. Di tengah lautan, kami mematikan mesin kapal. Ternyata itu hanya trik pemilik perahu. “Kita sedang diawasi dari atas pulau itu,” katanya. Benar saja, beberapa menit kemudian, sebuah perahu berpenumpang tiga orang mendekati kami.

Ketiganya berbadan tegap dan berambut cepak. Salah seorang diantaranya menenteng senjata laras panjang. Dengan sedikit membentak, salah seorang yang bercelana loreng itu, menyuruh kami pergi. “Sedang apa kalian. Jangan macam-macam. Pergi sana! Bentak dia. Kami pun pergi setelah mengambil gambar pulau dari kejauhan. Jarak kami sekitar 200 meter dari tepi pulau.

Tapi, saya meminta untuk memutari Pulau Pahawang Kecil yang bersebelahan dengan Pulau Lelangga Kecil. Dari sisi pulau itu, terlihat dua orang berenang dari tepi pulau Lelangga Kecil menuju sebuah perahu. “Itu penjaga pulau. Setiap dua hari sekali mereka bergantian menjaga pulau. Perahu mereka tidak bisa merapat ke tepi pulau, mereka terpaksa berenang,” kata pemilik perahu.

Pulau Lelangga Kecil, sejak dimiliki PT. Bukit Alam Surya milik Artalyta Suryani menjadi tertutup. Perusahaan itu membangun sebuah rumah panggung dari kayu, pendopo yang bisa menampung 100 orang, sebuah dermaga dan empat buah gazebo yang menghadap ke laut lepas. Warga sekitar pulau itu tidak tahu untuk apa bangunan itu. “Tapi selalu ramai di akhir pekan. Sebuah kapal pesiar selalu bersandar di dermaga pulau itu,” katanya.

Aktifitas pembangunan masih berlangsung. Itu tampak dari sebuah alat eskavator yang sedang meratakan tanah dan dua buah tenda pekerja di pulau itu. Sementara dua orang penjaga terus mengawasi perairan dari puncak pulau yang berbentuk seperti bukit itu.

Menurut keterangan sejumlah warga di Pulau Pahawang Kecil, hampir setiap akhir pekan pulau itu menjadi ramai. Cahaya lampu menerangi sejumlah sudut pulau yang mempunya luas sekitar 3 hektar atau empat lapangan sepak bola itu. Sementara irama musik sayup-sayup terdengar. Paginya, sejumlah orang memancing dan berenang di bagian yang berair tenang. “Kapal pesiar itu berangkat dari dermaga milik perusahaan Ayin di Panjang. Kapal itu mengangkut orang-orang penting dari Jakarta.” kata salah seorang warga Pulau Pahawang Kecil yang pernah bekerja di kapal itu.

Hal tersebut dibenarkan oleh sumber Tempo di PT. Bukit Alam Sejahtera (BAS). Perusahaan yang bergerak di bidang property milik Arthalyta Suryani alias Ayin di Lampung. Sumber Tempo yang tidak mau disebut namanya itu mengatakan, sejumlah petinggi Lampung dan Jakarta pernah menyambangi pulau tersebut. “Termasuk para jaksa di Kejaksaan Agung pernah berdayung sampan di sekitar pulau,” katanya.

Beberapa bulan lalu, kata dia, sekitar 5 orang jaksa berada di pulau yang butuh 1,5 jam perjalanan menggunakan perahu mesin temple dari desa terdekat, Kertapang, Kecamatan Padang Cermin Kapupaten Pesawaran. “Mereka bermain perahu dayung dan memancing di peraiaran itu,” kata dia sambil menunjukkan sejumlah photo mereka. Dia biasa turut menyiapkan tempat jika para tamu istimewa bosnya itu bertandang.

Dia menambahkan diantara rombongan itu, turut Jaksa Muda Pidana Khusus Kemas Yahya Rahman. “Abang (sebutan Kemas) kan pernah kuliah di Lampung. Ibu cukup dekat dengan beliau,” ujarnya. Kemas, kata dia, hanya berbincang-bincang di teras bungalau yang menghadap ke laut.

Ayin bersama anaknya, Romy Darma, biasa membawa rombongan ke tempat itu dengan menggunakan kapal pesiar dari dermaga di belakang tempat karaoke Millenium, miliknya. Tempo mencoba mengecek dermaga yang berada di Jalan Komodor Yos Sudarso, Panjang, Bandar Lampung. Tempat itu merupakan komplek PT. Bukit Alam Surya. Sebuah kapal berwarna putih masih bersandar. Sejumlah petugas keamanan menghalau Tempo saat hendak mendekati kapal tersebut. Nurochman

Label: